Sopir Truk Batu Bara Menjerit Jadi “ATM Berjalan”, Aparat Kepolisian Tutup Mata?
BATANG HARI — Praktik pungutan liar (pungli) di wilayah lintasan Jebak Ampelu hingga Muara Tembesi, Kabupaten Batang Hari, tampaknya kian subur tanpa tersentuh hukum. Para sopir truk batu bara secara terbuka melayangkan keluhan mendalam, mengaku frustrasi karena terus-menerus diperas oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab di sepanjang jalan.

“Kami seolah-olah dijadikan ATM bagi para pungli-pungli tersebut,” tulis perwakilan sopir truk batu bara dalam sebuah pesan terbuka yang beredar luas di media sosial.
Mereka menegaskan bahwa jumlah pelaku pungli kini semakin menjamur dan tak terkendali.
Dan Jeritan para pekerja jalanan ini memicu pertanyaan besar dari publik: Di mana aparat kepolisian saat para sopir ini diperas habis-habisan, di jalan lintas Jebak Ampelu dan Muara Tembesi adalah jalur utama yang seharusnya diawasi ketat. Namun, pembiaran yang terjadi mengindikasikan adanya pembiaran atau ketidakmampuan aparat dalam menjaga keamanan wilayah hukumnya sendiri.
“Para sopir truk telah memohon bantuan dan koordinasi agar pihak kepolisian segera melakukan penertiban secara tegas”. Tambah yudi salah seorang sopir saat dikonfirmasi
Menurut nya Mereka bekerja keras mencari nafkah, namun penghasilan mereka justru terus dipangkas secara paksa oleh premanisme jalanan yang semakin merajalela.
“Kami mendesak Kapolres Batang Hari dan jajaran Kepolisian Sektor setempat untuk segera turun ke lapangan. Jika pos-pos pungli ini terus dibiarkan berdiri kokoh, jangan salahkan masyarakat jika berasumsi bahwa hukum telah mandul,”jelasnya
Aparat penegak hukum dituntut untuk segera bertindak nyata, menangkap para pelaku, dan mengembalikan rasa aman di jalanan—bukan justru mendiamkan jeritan rakyat kecil yang sedang mencari sesuap nasi.(REN)








Discussion about this post